Selasa, 15 Juni 2021

Petani Sridadi Tanggamus juga Mulai Ekspor Talas Beneng

WONOSOBO (14/6/2021) – Awalnya karena pandemi covid-19. Berbagai hasil hortikultura dari Sridadi, Wonosobo, Tanggamus, tidak bernilai tinggi. Setelah itu sejumlah tanaman, seperti pepaya, tak panen karena diserang hama.

Sejumlah warga pun cari informasi di internet. Talas beneng sedang berharga bagus. Daun Tanaman yang ditemukan di Pandeglang, Banten, pada Tahun 2008 itu bisa panen dalam tempo 1 kali 2 pekan. Tiap 3 bulan,  umbi dan akar bisa dijual.

Beberapa warga pun memulai menanam. Sebagian pengepul  tertarik. Ratusan warga Pekon Sridadi kini menanam talas beneng, yang berasal dari singkatan Bahasa Sunda itu, talas besar dan koneng alias menguning jika sudah besar.

Asep, salah seorang pengepul, mengatakan ia kini bermitra dengan 100 petani. Tiap hari ada saja petani yang memasok dan ia  beli dengan harga Rp1.000 per kg.

Dengan 6 karyawan,  Asep pun mengolah daun talas beneng, dengan membeli alat pencacah, menjempurnya hingga kering, lalu menjualnya ke seorang pedagang di Tanjungkarang, diekspor untuk bahan rokok, kosmetik, dan obat-obatan.

Asep hanya membutuhkan daunnya. Seperti kebiasaan warga di Banten, petani di Tanggamus juga bisa menjadikan talas beneng sebagai makanan pengganti beras. Batang umbi bisa berusia 2 tahun, Panjang 120 cm, dengan bobot 42 kg dan diameter 50 cm.

Talas beneng umumnya diekspor ke Belanda dan Australia, setelah diolah menjadi bubur. Di Pandarincang dan Ciomas, Lebak, Banten, ada kelompok petani mengembangkannya hingga seluas 200 hektare.

HARDI

0 komentar:

Posting Komentar