Kamis, 17 Maret 2022

Hidup dari Memanjat Kelapa di Legok No'ong, Lampung Selatan

BAKAUHENI (17/3/2022) -  Tak banyak pengendara lalu lintas di Jalan Lintas Tengah Sumatera yang memerhatikan simpang menuju Dusun Sumbersari Legok No’ong, Kelawi, Bakauheni, Lampung Selatan. Bejarak sekitar 5 KM lagi menuju Pelabuhan Penyeberangan, letaknya berada di sebelah kanan dari arah Bandarlampung atau Kalianda.

Jalan menuju Dusun menurun. Namun setelah itu menanjak lagi, melewati Jalan Tol Trans Sumatera, lalu naik dan turun, menyesuaikan daerah perbukitan di sana, yang berbatasan langsung dengan Kawasan Selat Sunda.

Tanah perbukitan di sana cadas. Umumnya ditanami dengan pisang dan jagung. Namun banyak juga juragan tanah yang menanam kelapa hibrida. Dari tanaman itulah sekitar 80 kepala keluarga berpenghidupan.

Suanda, salah satu dari warga Dusun Sumbersari Legok No'ong, yang mengandalkan hidup dari kelapa hibrida. Dengan diupah oleh juragan tanah, sehari-hari ia bekerja mengambil lahang kelapa di tengah kebun dan memprosesnya menjadi gula merah.

Persyaratan pertama bagi Suanda adalah bisa memanjat kelapa. Warga Dusun di sini tidak memerlukan tenaga tambahan, seperti monyet. Mereka tangkas memanjat pohon kelapa,dengan ketinggian delapan hingga 12 meter.

Dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa yang lain, Suanda mengumpulkan lahang. Biasanya, ia baru pulang setelah dua derigen penuh, masing-masing berukuran masing-masing 10 liter. Umumnya terkumpulkan setelah memanjat setidaknya 41 pohon kelapa.

Lahang kelapa, kemudian dibawa pulang ke rumah. Bekerja sama dengan isteri, minuman segar itu dimasak dalam dua kuali besar dalam waktu delapan hingga sepuluh jam. Setiap kuali menghasilkan 9 hingga 10 kg gula merah atau setiap satu liter lahang memproduksi satu kg gula.

Menjelang Ramadhan ini harga gula merah dari pengrajin bernilai lumayan, rata-rata Rp10 ribu per kg, naik dari bulan-bulan sebelumnya, yang bernilai delapan ribu tiap kilogram. 

Kenaikan harga gula merah sangat berarti bagi Suandi, karena upahnya bertambah dari pemilik lahan dan pengepul.

Warga asal Banten, Jawa Barat, itu hanya memperoleh upah dari memanjat puluhan pohon kelapa setiap hari dan memasaknya hingga menjadi gula. 

Soal berapa untung penjualan di pasaran dan ke mana disebarkan, Suandi menyerahkannya kepada pengepul dan majikan.

Ia bersyukur masih diberi keterampilan memanjat, memperoleh pekerjaan dari majikan, diberi amanah memasak lahang menjadi gula merah, dan mengharapkan terus memperoleh kayu sebagai bahan bakar.

ROY SHANDI

0 komentar:

Posting Komentar