Selasa, 12 April 2022

Sejam Tabuh Rebana Bangunkan Warga Sahur di Ulu Semong

ULUBELU (12/4/2022) -  Dulu, berbagai cara dilakukan Lingkungan untuk membangunkan warga sahur, mulai dari memukul kentongan, drum, atau bahkan membawa pengeras suara keliling kampung. Kini, setelah pandemi, yang terdengar umumnya hanya suara pengingat dari masjid.

Di Ulu Semong, Ulubelu, Tanggamus, tradisi keliling kampung membangunkan sahur masih terus dilakukan para orang tua. Kegiatan ini bahkan sekarang diikuti anak-anak muda. Berlangsung dari pukul 02.00 hingga 03.00 setiap hari.

Alat yang digunakan untuk membangunkan sahur adalah rebana, yang biasanya juga dipakai untuk mengarak pengantin, anak khitanan, aatau acara-acara tertentu untuk menyambut tamu kehormatan datang ke Pekon.

Rebana adalah gendang bundar dan pipih. Bingkainya berbentuk lingkaran, terbuat dari kayu yang dibubut, paling istimewa jika berasal dari jati. Salah satu sisinya untuk ditepuk. Meski yang menjadi gendang lapisnya, yang biasanya dilapisi kulit kambing betina.

Rebana adalah khas gendang Melayu se Asia Tenggara. Namun, alat musik ini berasal dari Timur Tengah, yang dibawa para pedagang dan penyebar Islam. Alat musik berkaitan erat dengan qasidah dan berasal usul dari bama tambourine.

Di Ulu Semong, main rebana untuk membangunkan sahur dimulai dari Masjid At-Taqwa pukul 02.00 Dinihari, keliling kampung selama sejam, dan kembali ke titik awal pada pukul 03.00. Saat itu masih ada warga tadarus Al-Quran di sana.

Hermansyah, anggota Grup Rebana Ulu Semong, mengatakan membangunkan sahur dengan rebana sudah tradisi dari nenek moyang warga di sana.

Dulu, warga yang berkeliling juga harus ada pembawa obor. Kini, cukup membawa rebana karena listrik sudah ada.

Karena terus dipertahankan orang tua, anak-anak muda setempat pun kini mulai belajar. Hal itu, biasanya, mereka lakukan dengan beberapa saat sebelum mengitari Pekon. Kalau ada yang salah saat berkeliling, yang lebih tua mengingatkan yang belia.

Pria berusia 40 tahun itu yakin warga Ulu Semong bisa mempertahankan tradisi tersebut. Sayang, kemampuan keuangan grup tidak bisa mengadakan rebana sesuai tradisi nenek moyang. Dulu jumlahnya 12, tetapi sekarang yang ada hanya empat.

ARI IRAWAN

0 komentar:

Posting Komentar