Friday, March 27, 2020

Sebentar Lagi Berakhir Riwayat Petani Karet Lampung Tengah

TERUSAN NUNYAI (27/3/2020) - Petani dan siapa saja yang berkepentingan dengan komoditas karet di Kabupaten Lampung Tengah, dan Tulangbawang Barat, menatap hari esok dalam kesuraman. Awan gelap disertai badai terus menyelimuti mereka, tak henti didera kesulitan mulai harga terus anjlok sampai pada batas titik nadir. Tak lama lagi sepertinya tertutup peluang berusaha menjual karet.

Harga idelanya Rp10 ribu per kilogram, itu paling minimal. Tapi, yang berlaku kini Rp3 sampai Rp3.500 per kilogram. Bukan lagi kewajaran, petani tak mendapat apa-apa selain habis untuk membayar upah pekerja deres karet. Getah karet harus tetap dideres meski harga tidak masuk akal, karena jika dibiarkan kerugian makin lebih besar. 

Sejak bulan Februari 2020, harga terus anjlok dari Rp6 ribu, sementara harapan petani adanya tindakan pemerintah tak kunjung tiba. Harga terjun bebas ke kisaran Rp3 ribu per kilogram. Itu juga akan terus amblas disertai penutupan tempat penjualan.

Sejumlah pabrik karet juga saat ini satu persatu tutup tanpa alasan jelas. Jika semuanya sudah gulung tikar, maka tak ada lagi harapan petani menjual perkebunannya. 

Ngalimin, petani karet di Kampung Gunungbatin, mengatakan, Jumat, 27 Maret 2020, petani masih bersyukur karena masih ada yang mau menampung karet meski harga tidak lagi menguntungkan. Tapi, peluang itu sebentar lagi pupus karena pabrik yang ada tak lama lagi berhenti beroperasi.

Trisno, petani karet di Kampung Tunas Asri Tulangbawang Barat, mengatakan meski murah, petani tetap menjual karetnya. Jika tidak, petani tidak bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.

ZEN SUNARTO

0 comments:

Post a Comment