Rabu, 31 Agustus 2022

Tanggamus: Jembatan Lenyap Setelah Warga Gotong Tandu

BANDAR NEGERI SEMUONG (30/8/2022) -  Cerita warga bergotong royong menandu ibu seorang bidan di Bandar Negeri Semoung, Tanggamus, seperti bersambung. Jembatan penghubung Pekon Atar Lebar dan Sanggi itu hilang diterjang banjir pada malam Selasa, 29 Agustus 2022, setelah dilewati warga berama-ramai sehari sebelumnya, Minggu, 28 Agustus.


Sakiyem binti Harjo Dirin, ibu Bidan Widayawati, yang bertugas di Atar Lebar, sudah dimakamkan di kampung halamannya di Waykanan. Video warga bergotong royong menandunya lewat jembatan Way Tuba juga tinggal sejarah.

Darno, Kaur Keuangan Pekon Atar Lebar, mengatakan Jembatan Way Tuba, penghubung Atar Lebar dan Sanggi, lenyap saat magrib. 

Peristiwa tersebut dibenarkan oleh Kapolsek Wonosobo, Tanggamus,  Iptu Juniko, yang turun ke lapangan pada Selasa, 29 April 2022, untuk mergecek kebenaran laporan.

Iptu Juniko dan Kaur Darno mengatakan, dengan tidak ada jembatan tersebut, satu-satunya jalan masuk atau keluar ke Pekon Arta Lebar hanya lewat sungai. Bersama warga, mereka, kini, bergotong royong memisah air agar sungai tersebut tetap bisa dilewati pengendara roda dua.

Kapolsek Wonosobo juga mengakui, dalam 10 tahun terakhir, Jembatan Way Tuba tidak bisa dipakai untuk roda empat. Karena ambulans tidak bisa masuk, warga yang bersalin, sakit, apalagi meninggal, harus ditandu ke atau dari Pekon Atar Lebar.

Karena belum didengar, Kaur Darno mengatakan, untuk sementara, pamong bergotong royong dengan masyarakat membendung sungai ke satu arah lain dan sedikit meninggikan bebatuan di tengah sungai.

Pamong dan aparat keamanan tersebut mengatakan, setelah lenyap dibawa banjir, sudah saatnya Pemerintah memperhatikan jembatan penghubung antara Pekon Atar Lebar dan Sanggi. Warga tidak memiliki akses lain keluar ke Ibukota Kabupaten dan Provinsi, kecuali lewat sungai tersebut.

Dengan jembatan yang lama dan tidak bisa dilewati roda empat pun, warga selama ini susah payah jika hendak ke puskesmas atau Kantor Camat, yang umumnya berjarak tempuh 15 kilometer. Mereka juga kesulitan mengangkut hasil pertanian untuk diangkut pengumpul di Lintas Barat.

HARDI SUPRAPTO

0 komentar:

Posting Komentar