Minggu, 21 Desember 2025

Legiman Tewas saat Lapo Tuak Menjamur di Pringsewu

 PRINGSEWU (20/12/2025) -  Di lapo tuak inilah, Legiman, warga Dusun Wates Selatan, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu, tewas karena luka tusuk karena ribut dengan peminum lain pada Sabtu Dinihari, 20 Desember 2025.

Sejumlah saksi menyebut penyebab keributan hanya simple.  Legiman, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani, menyenggol peminum lain, dan cekcok pun dimulai.

Khawatir keributan makin menjadi, Legiman membayar tuak, undur diri, dan pulang.

Selang beberapa menit, pengunjung lapo tuak kaget. Mereka mendengar Legiman ditujah. Dua orang pengunjung, rupanya, menganggap soal senggolan belum selesai. Mereka mengejar Legiman dan menghajarnya di kegelapan.

Legiman meninggal dunia di Puskesmas Wates. Warga merencanakan pemakamannya setelah jenazahnya diautopsi pihak kepolisian.

Polisi masih menguber siapa pembunuhnya hingga Sabtu Siang. Namun siapa pun dia, segera akan tertangkap, karena Lapo Tuak Sugeng di Pekon Wates Selatan, Gadingrejo, Pringsemu, ramai malam itu.

Yang menjadi masalah kini, lapo tuak berada di Pringsewu, yang terkenal dengan kota santri, dan memiliki banyak pesantren, dan tokoh agama berpengaruh.

Bagaimana bisa lapo tuak bisa buka di dusun-dusun, dan menjadi tempat hiburan bagi para petani, yang seharusnya sudah rehat pada malam hari, karena lelah seharian bekerja.

Apalagi, sejumlah warga sekitar, menyebut mereka sering mendengar keributan di lapo tuak. Minuman ini sering mempengaruhi jiwa pengunjungnya untuk berbuat keributan.

Saat ini, lapo tuak tidak hanya di Wates, namun menjamur ke mana-mana di pedesaaan.

Mungkin, di daerah asalnya, di Sumatera Utara, lapo tuak hanya tempat mengobrol, suplemen agar suara tinggi saat bermain gitar, dan relatif menjadi tempat hiburan semata.

Dampak tuak di Pringsewu bisa saja berbeda. Bisa jadi, peminumnya datang, karena menganggap minuman ini bisa lebih berani atau minimal menghilangkan pikiran penat sesaat.

Lapo tuak bisa buka di pedesaan tentu saja atas sepengetahuan seluruh pihak.  Umumnya dusun, desa, atau pekon di kawasan ini, daerah terbuka.

Tewasnya Legiman, warga Dusun Wates Selatan, bukanlah kebetulan. Pringsewu perlu segera membenahi diri dalam menata lingkungannya, kembali menjadi daerah santri, seperti dipelopori para pendahulu.

Pekerjaan ini, tentu saja, tidak hanya bisa dilakukan oleh pihak berwajib. Menjadikan Pringsewu kembali berbudaya ketimuran, seperti zaman dulu,  tugas seluruh elemen, mulai dari warga, tokoh agama, dan birokrat.

PIYAN AGUNG

0 comments:

Posting Komentar

 
×
×
data-ad-slot="9110068254" data-ad-format="auto" data-full-width-responsive="true">