BANDARLAMPUNG (21/4/2026) – Para istri prajurit Batalyon Infanteri 143 Tri Wira Eka Jaya menghidupkan usaha mikro berbasis kain tapis Lampung. Benang emas disulam menjadi motif gajah, kapal hingga siger, simbol kejayaan budaya Sai Bumi Ruwa Jurai.
ADI SUSANTO
Ketua Persit Novla Setiawan, Selasa 21 April 2026, menegaskan kegiatan sulam tapis lahir dari kesadaran bersama untuk tetap produktif di tengah penugasan suami sebagai Satgas Pamtas Statis di Papua. Mereka berusaha menciptakan aktivitas positif, salah satunya dengan belajar menapis.
Tak berhenti pada tapis, kreativitas anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang Yonif 143 terus berkembang. Berbagai produk turunan lahir dari tangan terampil mulai makrame hingga olahan sisa kain tapis menjadi aksesoris bernilai jual seperti bros, kalung, dan tempat tisu.
Menurut Novla, tapis bukan sekadar produk ekonomi, melainkan identitas budaya yang harus dijaga. Kain tapis adalah ciri khas Lampung. Persit ingin memperkenalkannya lebih luas sekaligus memastikan tetap lestari.
Produk-produk tersebut rutin dipasarkan melalui bazar dan dipamerkan saat kunjungan pejabat ke satuan. Salah satu penggerak kegiatan, Asri, mengaku telah menekuni usaha tapis selama tiga tahun dan aktif mengajarkan keterampilan kepada anggota lainnya.
Bagi Asri, menapis bukan hanya soal seni, tetapi juga strategi bertahan dan berkembang. Dirinya bisa menapis saat waktu senggang. Kerajinan ini menambah penghasilan keluarga.
Produk kerajinan kian variatif. Dari kain tapis hingga kombinasi batik-tapis yang diolah menjadi busana seperti baju, outer, dan rok. Pemasaran tapis melalui media sosial hingga jaringan dari mulut ke mulut, dengan jangkauan pasar sampai Jakarta dan Solo.
Di saat para prajurit menjaga kedaulatan negara di garis depan, para istri mereka menguatkan ekonomi dari belakang. Dari asrama sederhana, tapis tak hanya dijaga. Ia dihidupkan kembali sebagai simbol ketahanan, kreativitas, dan kemandirian.





