WONOSOBO (18/4/2026) – Misteri penemuan jasad pria mengapung di pesisir Pantai Muara Hati, Pekon Sukabanjar, Kecamatan Kotaagung Timur, Tanggamus, akhirnya terungkap. Korban adalah pemancing asal Pekon Simpang Bayur, Bandar Negeri Semuong (BNS), hilang sejak Senin lalu.

Jasad korban ditemukan sekitar 34 kilometer dari lokasi awal diduga terseret arus Sungai Way Semuong. Korban ditemukan warga setempat yang sedang memancing di pantai pada hari Kamis, 16 April 2026 sekitar pukul 08.00.
Kapolsek Wonosobo Iptu Tjasudin memastikan sosok jasad Sugiyo berdasarkan kecocokan ciri fisik dan pakaian melekat badan, termasuk sarung golok di pinggangnya.
Petugas melakukan proses identifikasi dan visum setelah jasad dievakuasi ke Rumah Sakit Batin Mangunang Kotaagung Keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Jenazah dimakamkan di TPU Pekon Simpang Bayur.
Korban Sugiyo diduga terseret banjir saat memancing di Sungai Way Semuong, Senin 13 April 2026 pukul 14.30 WIB hingga petang. Ia berpamitan kepada anaknya, Agung Widianto. Meski dilarang karena cuaca mendung, ia tetap berangkat dengan mengenakan mengenakan kaos lengan panjang warna kehijauan dan celana training hitam.
Kekhawatiran keluarga menjadi kepanikan karena Sugiyo tak kunjung pulang hingga malam. Kondisi diperparah dengan meningkatnya debit Sungai Way Semuong sekitar pukul 17.00 WIB akibat hujan deras dan bahkan sempat memicu genangan banjir.
Saksi mata menyebut hujan turun saat Sugiyo menuju lokasi memancing. Arus sungai bertambah deras dan debit air makin tinggi. Kondisi ini memperkuat dugaan hilangnya korban terseret banjir Sungai Way Semuong.
Pencarian awal menemukan jejak tapak kaki korban sekitar tiga kilometer dari rumah. Temuan ini diperkuat keterangan dua saksi yang melihat korban tengah memancing sebelum sungai banjir.
Operasi pencarian melibatkan tim SAR Gabungan Basarnas, BPBD, Polsek Wonosobo dan Brimob. Area penyisiran juga diperluas meliputi titik-titik rawan hingga hilir. Operasi ini berlangsung dramatis karena kondisi medan begitu berat, licin, dan berbahaya.
ADI SUSANTO





