KOTABUMI (21/8/2026) – Meninggalnya seorang balita di Rumah Sakit Handayani Kotabumi, Lampung Utara, menimbulkan kesedihan mendalam. Seperti terekam video viral, orangtuanya mengamuk dengan menuding pelayanan rumah sakit itu mengecewakan hingga anaknya tidak tertolong.
ADI SUSANTO
Keluarga bayi empat tahun bernama AK mempertanyakan proses penanganan pasien balita di ruang rawat inap, permintaan penempatan pasien di Ruang ICU, proses rujukan hingga persoalan administrasi selama perawatan.
Saat ditemui di rumah duka Desa Pekurun Tengah, Kecamatan Abung Pekurun, Senin 17 Agustus 2026, keluarga mengungkap balita AK dibawa ke Rumah Sakit Handayani pukul 15.30 WIB setelah kecelakaan lalu-lintas.
Balita tersebut diperiksa di IGG termasuk CT scan kepala. Menurut keluarga, dokter menyarankan rujukan pasien ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap. Namun, keluarga mendapat informasi rumah sakit rujukan belum pasti bisa menerima pasien. Karena itu AK tetap dirawat di Rumah Sakit Handayani.
Keluarga balita juga mempertanyakan penempatan di ruang rawat inap anak, bukan Ruang ICU. Selain persoalan medis, keluarga mempertanyakan proses administrasi dan pembiayaan ketika pasien membutuhkan penanganan segera.
Dengan meninggalnya pasien, bibi AK berharap seluruh proses pelayanan pasien dapat dievaluasi. Keluarga juga meminta kejelasan penanganan pasien sejak masuk IGD hingga kondisinya memburuk.
Ayah balita, Ahmad Desri, menyatakan keluarga menerima kepergian anaknya sebagai takdir. Namun, keluarga tetap berharap evaluasi seluruh proses pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang pada pasien lain.
Manager Pelayanan Medis Rumah Sakit Handayani dokter Istiqlall, Jumat 21 Agustus 2026, menyampaikan duka cita atas meninggalnya pasien berinisial AK. Rumah sakit juga memohon maaf kepada keluarga karena seluruh upaya medis belum berhasil menyelamatkan pasien.
Pasien mengalami penurunan kesadaran pasca kecelakaan lalu-lintas dengan kondisi cedera kepala dan multiple trauma. Pasien datang 15 Agustus 2026 pukul 15.28 WIB. Ia menjalani pemeriksaan termasuk CT scan kepala dan pemeriksaan dokter spesialis.
Hasil CT scan menemukan perdarahan di dalam kepala. Kondisi tersebut menjadi bagian diagnosis cedera kepala dan multiple trauma. Dokter spesialis menyarankan rujukan pasien ke rumahs akit dengan fasilitas kesehatan lebih lengkap. Keluarga telah mendapatkan edukasi kondisi pasien, tata cara rujukan hingga risiko terburuk.
Menurut rumah sakit, keluarga menyetujui proses rujukan pukul 17.30 WIB. Namun, sebelum rujukan terealisasi, pasien tetap mendapatkan pemantauan dan perawatan Rumah Sakit Handayani. Sekitar pukul 18.15 WIB, pasien dipindahkan dari IGD ke ruang rawat inap dalam kondisi masih stabil.
Pasien tetap menjalani observasi, evaluasi, pengobatan serta pemantauan dokter dan tenaga kesehatan. Apabila kondisi pasien menurun maka penanganan akan disesuaikan, termasuk kemungkinan pindah ke ICU.
Kondisi pasien memburuk pada 16 Agustus 2026 pukul 00.30 WIB hingga terjadi henti napas dan henti jantung. Tim medis melakukan resusitasi atau pijat jantung sesuai standar operasional prosedur. Meski pertolongan sudah maksimal, balita tersebut meninggal dunia di ruang ICU pukul 01.00 WIB.





