Pedagang menyebut sampah sudah lama tidak diangkut. Tumpukan sampah membuat akses pasar vecek dan berlumpur pada musim hujan. Sementara bau busuk sampah begitu menyengat waktu cuaca panas. Bukan cuma mengundang keluhan pedagang dan pengunjung, aroma busuk juga mengganggu pengguna Jalan Lintas Sumatera.
Pengelola pasar tidak menjaga kebersihan lingkungan. Padahal, pasar ini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kecamatan Abung Selatan dan sekitarnya seperti Bandar Kagungan Raya, Kali Balangan, Sukamaju, Tanjung Iman, dan Blambangan Pagar.
Sejumlah pedagang juga mempertanyakan transparansi pengelolaan retribusi setiap hari. Mereka membayar retribusi harian Rp4 ribu tetapi nominal karcis dengan label Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung Utara hanya Rp2 ribu.
Selain retribusi harian, pedagang masih dibebani iuran keamanan dari dua pihak berbeda yaitu Rp20 ribu per bulan kepada petugas dinas dan Rp25 ribu per bulan kepada desa.
Pedagang mempertanyakan penarikan retribusi dan iuran tidak diimbangi dengan pelayanan kebersihan secara maksimal. Buktinya sampah menumpuk berbulan-bulan dan menebar bau busuk dibiarkan begitu saja.
Sejumlah pengunjung pasar mengaku rutin belanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Simpang Propau juga kecewa atas kondisi kumuh dan tumpukan sampah membusuk. Sampah bukan hanya mengganggu transaksi, tetapi merusak pemandangan jalur utama pasar.
Para pedagang berharap Dinas Perdagangan, Dinas Lingkungan Hidup, dan pengelola pasar membenahi sampah. Mereka juga meminta keterbukaan pengelolaan retribusi harian dan iuran bulanan.
ADI SUSANTO DAN VIJAY






0 comments:
Posting Komentar