Terakhir, pada Rabu, 24 Desember 2025, bus kosong dari subuh, dan baru muncul pukul 09.00 pagi. Menjelang Ashar, bus tidak tampak lagi, hingga menjelang magrib.
Kekosongan, terutama terasa di jalur eksekutif. Sejumlah pemudik tidak mengetahui ada bus di kawasan reguler, karena terhalang pandangan, dan rata-rata bukan orang yang sering bolak-balik antara Bakauheni dan Merak.
Meski tidak ada penumpukan, sering kosongnya bus membuat pemudik pejalan kaki merasa kecewa. Belasan dari mereka tidak sudi direkam saat wawancara, karena menganggap Pemerintah saat ini tidak peduli dengan rakyat kecil.
Arianto, misalnya, menyebut siapa pun pengatur Pelabuhan di Bakauheni, tidak memahami kultur warga Jakarta dan Tangerang, yang sudah terbiasa dengan bus. Ia curiga, pejabat sekarang ini, bisa jadi, sudah tidak peduli dengan pejalan kaki.
Kenapa tidak naik travel? Hermawan, warga Bandarlampung, mengatakan, selain kebiasaan naik bus, ia sering kecewa memakai kendaraan kecil. Mulai dari tidak segera masuk tol, harus ikut mengantar penumpang dari satu kota ke kota lain.
Ketua Organda Lampung Selatan Irfan Rizal, ternyata, sudah memperkirakan hal ini. Meski di Jakarta fasilitas umum diperbaiki, angkutan di Lampung diserahkan tanpa manajerial ke siapa saja.
Irfan, bahkan, menyebut Otoritas Pelabuhan sudah dua tahun tidak mengundang Organda dalam rapat koordinasi. Meskipun tidak dianggap lagi pada hari biasa, seharusnya para pejabat tidak bekerja sesuai perutnya pada musim liburan, seperti Nataru dan Lebaran.
Pria bertampang peranakan Indo itu menyebut, jika ada koordinasi dari Otoritas Pelabuhan, pengusaha bisa saja segera mengirimkan bus, karena pemudik masih berada di perairan.
ROY SHANDI,






0 comments:
Posting Komentar