Konstruksi jembatan direncanakan membentang 300 meter dari Desa Tanjung Tirto menuju Desa Kalipasir. Sebagian pondasi dan struktur bawah sudah terbangun sekitar 150 meter, namun kondisinya retak-retak dan bahkan ambruk.
Mangkraknya jembatan sejak tahun 2018 menimbulkan keresahan masyarakat dan pengguna jalan. Sementara warga menunggu kelanjutan pembangunan, sebagian kontruksi jembatan justru rusak karena dugaan kualitas sangat buruk.
Pengguna jalan dan pedagang mempertanyakan kesanggupan pemerintah dalam menyelesaikan pembangunan jembatan. Mereka beralih menggunakan transportasi alternatif berupa perahu dengan kapasitas terbatas dan risiko kecelakaan tinggi waktu banjir.
Tokoh pemuda setempat menyebut pembangunan jembatan terhenti sejak 2018. Konstruksi jembatan juga tidak tepat sehingga membuat penyempitan alur sungai dan berdampak banjir. Warga sekitar jembatan kehilangan banyak barang karena hanyut.
Masyarakat mendesak pemerintah segera melanjutkan pembangunan jembatan sampai tuntas. Jembatan ini sangat vital sebagai penghubung wilayah Lampung Timur dan Lampung Tengah terutama mobilitas pelajar, pedagang, dan angkutan hasil bumi. Selama jembatan mangkrak, transportasi menggunakan perahu tambang dan ponton.
Sementara tokoh masyarakat mendengar pembangunan jembatan telah menyedot anggaran Rp29 miliar. Kontraktor jembatan juga sudah berganti tiga kali tetapi proyek ini tetap mangkrak. Sebagian konstruksi retak-retak dan bahkan ambruk.
MUHAMMAD FARID






0 comments:
Posting Komentar