Petani mengeluh gagal tanam berkali-kali setiap bulan. Bibit padi baru ditanam lenyap disapu banjir. Areal persawahan terdampak banjir Sungai Way Pisang mencapai ratusan hektar.
Sampah menyumbat selama berbulan-bulan. Kondisi ini dieperburuk oleh penumpukan kayu dan ranting di aliran sungai dekat persawahan. Air otomatis terbendung dan meluap selepas hulu hingga hilir. Sebulan tika kali kebanjiran dan penanaman bibit padi juga berulang tiga kali.
Petani mendesak Pemkab Lampung Selatan bersama dinas terkait mengatasi banjir dengan pembersihan alur Sungai Way Pisang. Petani sudah gotong-royong menyingkirkan tumpukan sampah dengan volume terbatas. Upaya itu tidak sebanding karena sungai kembali penuh sampah dan tumpukan kayu.
Petani berharap pemerintah menurunkan alat berat. Tumpukan sampah mencapai ribuan meter kubik tidak mungkin diatasi dengan tangan kosong.
Penumpukan sampah paling parah berada di Dusun Muara Padas. Tumpukan sampah menjadi sarang berang-berang. Banjir mulai menggerus tanggul sehingga potensi banjir makin nyata. Petani dihantui kekhawatiran setiap turun hujan.
Tokoh masyarakat juga turun tangan begitu melihat banyak sampah dan tumpukan kayu sepanjang aliran sungai. Dampak luapan air sungai makin luas dan merugikan petani.
Salah satu petani menjerit karena kewalahan sawahnya kebanjiran enam kali dalam sebulan. Petani menuding tanggul sungai tidak mampu mengatasi luapan banjir.
ADHE KOLA






0 comments:
Posting Komentar