Tingginya animo warga tak lepas dari kebutuhan sembako terjangkau menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Di tengah potensi kenaikan harga pangan, selisih harga menjadi daya tarik utama. Warga memanfaatkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk mengamankan kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah dari pasaran.
Pemkab Lampung Utara membuka Gerakan Pangan Murah untuk menjaga stabilitas pasokan dan meredam gejolak harga. Program ini menjadi bentuk intervensi langsung agar daya beli masyarakat terjaga saat tekanan harga mulai terasa.
Gerakan Pangan Murah melibatkan Dinas Ketahanan Pangan bersama Bulog, pemasok telur Tama Jaya, Bunga Mayang serta Tim Penggerak PKK. Pasar ini menggelontorkan 3,5 ton beras SPHP, 1.200 liter minyak goreng, 2,3 ton gula pasir, 200 kilogram telur, 300 tabung elpiji volume 3 kilogram hingga cabai dan bawang.
Selisih harga dengan pasaran cukup signifikan. Beras dijual Rp57.000 per sak dibandingkan harga pasar Rp60.000. Minyak goreng Rp15.000 berbanding Rp16.000. Gula Rp16.000 dari Rp18.000.
Selisih harga paling mencolok cabai rawit hijau Rp33.000 per kilogram, sementara harga pasar mencapai Rp60.000. Cabai merah keriting Rp25.000 berbanding psaran Rp42.000, bawang merah Rp36.000 berbanding Rp43.000, dan elpiji 3 kilogram Rp20.000 dari Rp23.000.
Harga bisa ditekan karena pasokan melibatkan Bulog dan produsen secara langsung untuk memotong rantai distribusi yang selama ini memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Di tengah padatnya antrean, warga tetap antusias dan datang lebih pagi demi mendapatkan sembako murah sebelum stok habis. Lonjakan pembeli hingga membuat seluruh komoditas ludes dalam waktu kurang satu jam.
Gerakan Pangan Murah bukan sekadar ajang belanja hemat. Program ini menjelma menjadi penyangga stabilitas harga sekaligus bukti kehadiran pemerintah daerah dalam menjaga daya beli warga menjelang hari raya Idul Fitri.
ADI SUSANTO






0 comments:
Posting Komentar