Serah terima ditandai dengan penandatanganan berita acara dari pembina madrasah kepada jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bandarlampung, serta penandatanganan para saksi.
Kegiatan ini dihadiri pembina dan pengurus madrasah, perwakilan wali murid, perangkat kelurahan serta pengurus Muhammadiyah Kota Bandarlampung.
Madrasah Pajajaran berdiri di lahan seluas 735 meter persegi ini memiliki tiga gedung terdiri lima ruang kelas, satu ruang guru, perpustakaan, mushola serta ruang UKS.
Ketua PDM Kota Bandarlampung Riyuzen Praja Tuala menyampaikan apresiasi atas kepercayaan keluarga besar madrasah kepada Muhammadiyah. Sekolah tingkat dasar tersebut akan dikelola secara professional melalui peningkatan kompetensi guru dan manajerial.
Pihaknya juga mempertimbangkan perubahan nama sekolah, mengingat statusnya di bawah naungan Muhammadiyah.
Pembina madrasah, Suhaibi, menjelaskan tanah sekolah merupakan amanah wakaf sejak tahun 1970-an dari almarhum Kiai Haji Thobari. Sementara Madrasah Ibtidaiyah Pajajaran berdiri tahun 1986.
Karena keterbatasan sumber daya manusia dan pendanaan, pengurus bersama pembina bermusyawarah dan sepakat menyerahkan pengelolaan kepada Muhammadiyah dengan harapan madrasah dapat berkembang lebih maju.
Pemilihan Muhammadiyah didasarkan pada rekam jejak organisasi tersebut dalam mengelola berbagai amal usaha pendidikan dan sosial.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah Pajajaran Yuniar menjelaskan sekolah memiliki enam tingkat kelas dari kelas satu hingga kelas enam. Jumlah siswa 95 didukung 14 pengajar. Kegiatan belajar mengajar berjalan aktif. Keterbatasan ruang kelas membuat proses pembelajaran kelas satu dan dua bergantian.






0 comments:
Posting Komentar