Rabu, 29 April 2026

Konsistensi Rasa Asli Kopi Robusta Lampung Barat

BALIKBUKIT (29/4/2026) – Saat dunia sedang jatuh cinta pada kopi-kopi “asam" ala kafe kekinian, seorang pemuda dari perbukitan Lampung Barat justru melawan arus. Bukan tentang rasa fruity kompleks, melainkan aroma pekat yang membangkitkan ingatan lama.

Inilah kisah Wahyudi, pria yang mengubah pahitnya harga kopi menjadi kesuksesan lewat produk Walu Coffee di Pekon Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat.

Ia konsisten menawarkan cita rasa kopi robusta yang pekat dan jujur di tengah tren kopi asam. Wahyudi bangkit dari krisis ekonomi 2018. Bermula dari sangrai kuali tanah liat sampai pembelian alat roasting kopi modern, produk Walu Coffee kini merambah pasar Jakarta dan bahkan siap menembus pasar ekspor.

Aroma kopi robusta hasil sangrai mesin roasting yang tajam dan pekat langsung menyapa siapa saja yang menginjakkan kaki di rumah produksi Walu Coffee. Di sini bukan rasa acidic atau fruity, melainkan kejujuran rasa biji robusta sejati. 

Saat mayoritas produsen mengejar tingkat kematangan medium roast demi memasok kafe-kafe estetik, Wahyudi memilih jalan sunyi. Ia setia menyangrai kopi hingga tingkat medium to dark. Sebuah dedikasi bagi para penikmat kopi berkarakter pahit.

Pemilihan biji kopi kualitas terbaik dengan memperkejakan ibu-ibu tetangga. Wahyudi ingin mempertahankan identitas asli Lampung Barat sebagai penghasil robusta. Pahit itu bukan berarti buruk, justru di sana letak karakternya. Ia tawarkan kopi rasa jujur.  

Wahyuni berencana membuat inovasi baru yaitu kombinasi kopi robusta dan arabika. Namun, konsisten ini bukan tanpa ujian. Tahun 2018 menjadi titik terendah saat harga biji kopi terjun bebas Rp18 ribu per kilogram. Enggan menyerah pada keadaan, ia berdama sang ayah memutuskan berhenti menjual biji mentah.

Berbekal kuali tanah liat sederhana, mereka mulai memproduksi kopi bubuk rumahan. Siapa sangka, ketekunan dari dapur tradisional itu kini bertransformasi dengan mesin roasting modern senilai Rp48 juta.

Meski harga kopi meroket hingga Rp60 ribu per kilogram, Wahyudi tetap memastikan produknya inklusif. Dari kelas premium seperti kopi petik merah dan kopi lanang hingga kemasan ekonomisRp 5 ribu rupiah yang jadi primadona warung-warung desa.

Harga kopi bervariasi yaitu walu premium Rp140 ribu, kopi lanang Rp150 ribu dan kopi petik merah Rp150 per kilogram. Kopi asalan dengan harga Rp130 ribu serta gula semut.

Kekuatan media sosial pun turut membawa aroma Walu Coffee terbang lebih jauh. Rexi, seorang pemuda lokal, mengaku terpikat setelah melihat unggahan di Instagram. Baginya, ini adalah jawaban atas pencarian rasa kopi berkarakter dengan harga ramah. Pas dicoba, rasanya pas. Benar-benar kopi dengan rasa pahit “berani”. 


Tak berhenti di Lampung Barat, kolaborasi dengan produk gula semut membawa Walu Coffee merambah Metro, Bandarlampung hingga Jakarta. Dari Balik Bukit, sebuah mimpi besar kini tengah diseduh: membawa cita rasa kopi merakyat ini menuju pasar ekspor.

LILIANA PARAMITA 

0 comments:

Posting Komentar

 
×
×
data-ad-slot="9110068254" data-ad-format="auto" data-full-width-responsive="true">