Induk betina bernama Shinta merupakan penyintas jerat pemburu liar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Bengkulu, pada 2024. Setelah diselamatkan dan dirawat, Shinta mendapat kesempatan kedua untuk hidup. Sementara pejantan Kyai Batua juga pernah terjerat di kawasan Hutan Suoh, Lampung Barat, pada 2019.
Kedua harimau yang sama-sama pernah terluka itu dipertemukan dalam program perkembangbiakan (breeding) selama dua tahun. Proses dilakukan dengan pengawasan ketat dan perawatan intensif hingga
akhirnya membuahkan kelahiran dua anak harimau yang sehat dan lincah.
Komisaris Utama Taman Wisata Lembah Hijau, Irwan Nasution, menyebut kelahiran ini sebagai bukti keberhasilan konservasi. Hal senada disampaikan Itno Itoyo, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, yang menegaskan bahwa kelahiran satwa langka ini menjadi pengingat pentingnya menjaga habitat alami.
Kelahiran dua bayi harimau sumatera tersebut diharapkan menjadi tonggak baru dalam upaya kelestarian satwa liar. Dari kisah luka masa lalu, kini lahir generasi baru penjaga rimba yang memberi
harapan bagi masa depan.






0 comments:
Posting Komentar