Namun di balik melimpahnya produksi, para peternak justru menghadapi kondisi memprihatinkan. Harga telur ayam di tingkat peternak turun drastis dari Rp27 ribu menjadi Rp22 ribu per kilogram. Penurunan harga ini dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.
Menurut Wasirun, biaya terbesar berasal dari pakan ternak yang harganya terus naik, ditambah biaya operasional harian. Dengan harga jual yang rendah, keuntungan peternak semakin tipis, bahkan banyak yang harus menanggung kerugian.
Kondisi semakin berat setelah adanya pengurangan pesanan dari dapur program MBG. Jika sebelumnya pemesanan dilakukan dua kali seminggu, kini hanya sekali. Berkurangnya permintaan membuat stok telur menumpuk di kandang dan memperlambat perputaran usaha.
Para peternak berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga telur di pasaran. Mereka juga meminta perhatian terhadap harga pakan ternak yang semakin membebani peternak kecil dan menengah.






0 comments:
Posting Komentar