Pemuda bernama Mahdika Murtopo, mahasiswa semester tujuh Universitas Brawijaya berusia 22 tahun, menyebut ayam AK-79 bukan sekadar ayam kampung biasa. Varietas ini merupakan hasil perkawinan silang ayam kampung lokal dengan indukan unggul asal Eropa dan Asia.
Ide persilangan ayam ini muncul dari hobi hingga berkembang menjadi riset mandiri untuk menjawab kebutuhan daging ayam yang terus meningkat.
Mahdika memaparkan ayam AK-79 memiliki keunggulan signifikan dibandingkan ayam kampung. Jika pemeliharaan ayam kampung butuh waktu sekitar empat bulan untuk mencapai bobot konsumsi, AK-79 hanya perlu 50 hingga 60 hari untuk mencapai bobot rata-rata 1,2 kilogram.
Selain pertumbuhannya cepat, ayam ini lebih tahan penyakit dan memiliki daya adaptasi tinggi terhadap iklim di Lampung Selatan. Keunggulan tersebut berbanding lurus dengan nilai ekonomi.
Mahdika menjual bibit ayam AK-79 seharga Rp9.000 per ekor. Sementara telur ayam kampung konsumsi dijual Rp2.500 per butir. Tingginya minat peternak membuat Mahdika kewalahan memenuhi permintaan pasar.
Permintaan bibit dan telur sangat tinggi. Pesanan sampai April 2026 sudah penuh dan ada pemesan bersedia antre hingga bulan Juni.
Inovasi Mahdika ini mendapat dukungan sang ayah, Elik Murtopo, yang sehari-hari bertugas sebagai hakim tipikor di Pengadilan Tinggi Banten. Meski berbeda profesi, Elik bangga dengan kemandirian anaknya memilih jalur wirausaha ketimbang sektor formal.
Mahdika juga mengintegrasikan peternakannya dengan pertanian. Kotoran ayam dari kandangnya diolah menjadi pupuk tanaman cabai dan tomat.
ROY SHANDY






0 comments:
Posting Komentar