Saat alarm bahaya meraung, ia tahu maut sedang dekat. Ia berlari menggandeng dua anak didiknya ke dek atas mencari pelampung, namun pelampung sudah habis direbut penumpang lain yang panik. Asap hitam pekat membubung, ledakan demi ledakan terdengar dari perut kapal. Hanya doa yang bisa ia panjatkan sambil memeluk anak didiknya agar tak terpisah.
Beruntung, ketiganya berhasil melompat ke sekoci penyelamat. Begitu kaki menginjak kapal penyelamat di tengah laut, Purnomo langsung sujud syukur. Nyawa selamat, tapi tidak dengan harapan.
Seluruh kostum Tari Gandrung kebanggaannya, yang ia jahit dan rawat bertahun-tahun dengan susah payah, hangus menjadi abu. Uang tunai untuk bekal pentas dan barang berharga lainnya pun ludes dilalap api. Kerugian Rp16 juta itu bukan sekadar angka, itu adalah keringat dan mimpinya yang ikut terbakar.
Kepedihan kian dalam saat ia mengurus ganti rugi ke PT ASDP Bakauheni. Ia justru kebingungan dimintai bukti tiket dan STNK, padahal semua dokumen itu sudah hangus bersama kendaraan di dalam kapal. Ia hanya memegang luka dan trauma, terutama trauma mendalam yang dialami dua anak didiknya.
Kini, ia hanya bisa menunggu dengan mata berkaca-kaca, berharap ada keadilan dan ganti rugi yang sepadan untuk kostum tari dan uang yang telah hilang di lautan api itu.
0 comments:
Posting Komentar