Perajin bata dihantui kekhawatiran selama musim hujan. Produksi bata terhambat minimnya paparan sinar matahari sehingga perlu gerak cepat dalam memanfaatkan celah cuaca.
Wanita perajin bata di Desa Pardasuka, Suswarti, mengakui anjloknya produksi bata selama musim hujan dibandingkan kondisi normal. Hal ini akibat tempo pengeringan butuh waktu lebih lama dari seminggu menjadi dua minggu. Akibatnya kapasitas produksi merosot dari 3.000 menjadi 1.500 bata per minggu.
Kondisi serupa dirasakan Lamijo, seorang pemilik rumah produksi bata di Desa Pardasuka. Curah hujan tinggi periode Desember 2025 hingga Februari 2026 bahkan memaksa penghentian produksi dan para pekerja sampai diliburkan. Awal bulan ini diupayakan peningkatan produksi untuk menutupi kerugian sebelumnya.
Kecamatan Katibung memang dikenal sebagai sentra produksi bata dengan jumlah rata-rata 20 pengusaha atau perajin per desa. Hasil produksi didistribusikan ke berbagai kecamatan, termasuk Merbau Mataram, Kalianda hingga pasar terbesar Kota Bandarlampung.
Harga bata mengalami fluktuasi selama musim hujan yaitu berkisar Rp290 ribu sampai Rp300 ribu per seribu bata. Harga sempat melonjak jadi Rp350 ribu karena terdorong minimnya stok. Namun, harga kembali stabil seiring stabilnya produksi.
GELLY ANTHONIYOS






0 comments:
Posting Komentar