Kamis, 31 Maret 2022

Ziarah ke Makam Ulama Lampung yang Dicap Belanda Radikal

BANDARLAMPUNG (31/3/2022) -  Hujan sedang turun di Jalan Banten, Kuripan, Teluk Betung Barat, Bandarlampung, saat lima bus dari Tanggamus tiba di komplek makam Tubagus Yahya. Pakai payung atau tidak, mereka pun masuk ke dalam. Umumnya wanita. Dipimpin sejumlah ustad. Tampak juga sejumlah pria dan anak-anak.

Seperti hari-hari lainnya, menjelang bulan Ramadhan 1443 Hijriyah, Makam Tubagus Yahya menjadi tempat ziarah kaum Muslim. Sudah berlangsung sejak waliyullah itu meninggal pada Tahun 1930, sebelum Indonesia merdeka,  hingga kuncennya, Almarhum H. Yusuf, pernah dicap radikal oleh Belanda.

Dalam sekejab komplek makam berukuran 650 meter persegi itu penuh dengan peziarah. Dipimpin oleh seorang ustad, kaum Muslim yang datang melantunkan tahlil. Pada akhir acara mereka mendoakan waliyullah itu dan juga menengadahkan harap kepada Allah agar dapat melaksanakan ibadah puasa di Ramadhan,  yang tiba beberapa hari lagi.

Rusli, peziarah dari Batuputu, mengatakan ia rutin ziarah ke makam Tubagus Yahya menjelang Ramadhan setelah nyekar ke makam orang tuanya. 

Ustad Fadhil dari Pesantren Al-Falah Sumberejo, Tanggamus menyebut ziarah menjelang Ramadhan mereka lakukan setiap tahun. Selain ke makam Tubagus Yahya, mereka juga ke makam KH Gholib dan Sunan Jati Agung di Pringsewu.

Alkisah, Tubagus Yahya seorang perantau dari Kenari, Kasemen, Banten.  Masih bagian dari keluarga Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir Kenari, yang hidup dari Tahun 1596 hingga 1651.

Tubagus Yahya sempat ke Bogor sebelum sebelum datang ke Teluk Betung, Bandarlampung, pada Tahun 1920-an. Ia diterima menjadi keluarga oleh warga setempat, H. Yusuf bin H. Hamid.

Waliyullah itu juga terkait dengan Tubagus Mahdum, yang makamnya berada di Garuntang, Teluk Betung Selatan, Bandarlampung. Mereka Keturunan Sunan Gunung Jati dari jalur Sultan Maulana Hasanudin, pendiri Kesultanan Banten.

Selama di Teluk Betung, Tubagus Yahya mengajari kaum Muslim belajar Al-Quran. Salah satu karomahnya adalah air penyembuh. Banyak warga kehilangan Beliau saat meninggal pada Tahun 1930.

Masarin, kuncen makam, yang juga cucu dari H. Yusuf, mengatakan, setelah meninggal, jasa Tubagus Yahya dibalas warga dengan berziarah ke makam. Hal ini menjadi persoalan buat Belanda karena dianggap bagian aktivitas radikalisme.

Penguasa Belanda zaman itu membongkar makam Tubagus Yahya. Saat masih menggali, cahaya muncul dari dalam. Pasukan penjajah meninggalkan lokasi dan menabalkannya sebagai makam keramat.

Kuncen berusia 63 tahun itu mengatakan peziarah makam Tubagus Yahya selalu ada setiap hari dan ramai menjelang Ramadhan dan Lebaran. Mereka tidak hanya dari Lampung, tetapi juga Kalimantan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

DI Kompleks makam Tubagus Yahya juga terdapat persinggahan terakhir puterinya, Hajjah Eyeum, H. Yusuf  bin H. Hamid, M. Saleh bin H. Yusuf, dan Haji Rojali bin Hj. Kasan, kuncen makam yang wafat 1993.

DEDI KAPRIYANTO DAN ARI IRAWAN

0 komentar:

Posting Komentar