Selasa, 05 April 2022

Tiang Masjid Lampung yang Tak Patah Disapu Krakatau

BANDARLAMPUNG (4/4/2022) -  Sekilas, masjid yang berada di Jalan Laksamana Malahayati, Kangkung Pesawahan, Teluk Betung Selatan, itu, sama dengan tempat ibadah umat Islam lainnya di Bandarlampung, terutama yang berasitektur Banten lama.

Bagi yang jeli, masjid yang bernama Al-Anwar itu menjadi lebih bernilai karena terdapat dua meriam di halaman depannya.  

Hanya masjid di zaman Belanda yang memiliki meriam. Meskipun kini sudah tidak dipakai, pada Tahun 1888 hingga 1990-an, suaranya mendentum hingga terdengar ke Tanjungkarang saat berbuka puasa.

Masjid Jami Al-Anwar tempat ibadah umat Islam tertua di Bandarlampung. Awalnya sebuah surau, yang didirikan oleh pedagang asal Bugis, seperti Daeng Sawijaya, Tumenggung Mohammad Ali, dan Penghulu Besar Kiai Muhammad Said,  dan Muhammad Soleh, pada Tahun 1839.

Didirikan 200 meter di pinggir pantai, surau terkena letusan Gunung Krakatau pada Tahun 1883. Seluruh bangunan hancur, kecuali enam tiangnya, yang hingga saat ini masih berdiri di sana, meski sudah dibalut semen berkali-kali.

Rusdi, pengurus Masjid Jami' Al Anwar, mengatakan keenam tiang dibangun berkaitan dengan rukun Iman.  Awalnya kayu, lalu dibalut dengan kapur campuran telur, kemudian belakangan dirangka besi dan semen.

Selain enam tiang dan meriam, Masjid Jami Al-Anwar juga memiliki sumur tua yang tidak pernah kering. Meski sudah mempunyai sumur bor baru dan jaringan PDAM, airnya tetap dipakai hingga saat ini, terutama jika shalat Jumat atau jamaah mencapai ribuan.

Berdiri di atas lahan seluas 6.500 meter, surau kemudian menjadi masjid pada Tahun 1988, yang dibangun Daeng Sawijaya, bekerja sama dengan dengan para saudagar dari Bugis, Banten, dan Palembang.

Masjid itu pun menjadi tempat berkumpul penyebar agama Islam, pedagang, hingga pejuang Kemerdekaan Indonesia, seperti KH Nawawi, KH Toha, mantan Menko H. Alamsyah Ratu Prawiranegara, dan Kapten Subroto.

Rusdi mencatat Masjid Jami Al-Anwar sudah direnovasi dua kali pada Tahun 1962 dan 1997 untuk memperbesar daya tampung dari 400-an menjadi dua ribuan. Saat Lebaran, tiga ribuan kaum Muslim bisa berjemaah di sana.

Hampir setiap ulama, pedagang, dan pejuang yang berkumpul di Masjid Al-Anwar meninggalkan cendera mata di sana, seperti Al-Quran yang sudah berusia ratusan tahun, tapi kini mulai rapuh dimakan usia.

Masjid Al-Anwar juga menyimpan setidaknya 700 buku-buku agama Islam, yang juga berusia ratusan tahun dan berbahasa Arab, Belanda, dan Portugis. Seluruhnya menjadi bagian isi perpustakaan, yang bisa dibaca setiap saat, kecuali al-Quran kuno yang mulai rapuh.

DEDI KAPRIYANTO DAN ARI IRAWAN

0 komentar:

Posting Komentar