Minggu, 12 Desember 2021

Bunda Rosi, Pedagang Durian dari Wonosobo, Tanggamus

WONOSOBO (12/12/2021)  - Ribuan durian menumpuk di depan rumah Rosi Sahdum, warga Pekon Sridadi, Wonosobo, Tanggamus. Baunya pun ke mana-mana, mengundang selera orang yang lewat. Siang dan malam ada saja kendaraan yang parkir di sana, terutama mobil pengangkut ke Jakarta.

Terkenal sebagai daerah penghasil durian dengan daging yang lembut, pulen, dan manis, banyak orang sengaja datang ke Wonosobo untuk menyantap. Apalagi produksi durian di kawasan ini tidak hanya lokal. Ada juga jenis montong.

Durian Wonosobo Tanggamus terkenal karena memiliki batang yang umumnya sudah tua. Para petani harus memanjat dan memerlukan minimal dua orang untuk memanennya.

Ovan, seorang warga Bandarlampung, sengaja datang ke Wonosobo karena sering tidak puas dengan durian di daerah tempat tinggalnya. Ia pun melahap dua buah, dengan harga Rp25 ribu per kilogram.

Bersama enam rekannya, Ovan lebih senang dengan durian lokal. Mereka memborong belasan buah untuk dibawa ke Bandarlampung sebagai oleh-oleh. 

Endang dari Pringsewu lain lagi. Ia sengaja datang ke tempat Rosi karena di sana menyediakan durian jenis montong. Baginya, daging jenis ini lebih tebal, pulen, dan lebih manis. Ibu paro baya ini juga memborong untuk oleh-oleh buat keluarga.

Rosi Sahdum, sang pengepul durian di Wonosobo, mengatakan ia, memang, menjadikan rumahnya menjadi kuliner khusus, karena setelah ada jenis montong, musim tidak pernah putus. Ada saja petani durian yang membawa ke sana.

Wanita itu mengaku mengirim enam ribu butir setiap hari ke Jakarta pada saat musim, dengan langganan tertentu di Ibukota Negara itu.

Rosi juga memproduksi tempoyak dan mempekerjakan sejumlah orang untuk mengemasnya. Ia melakukan hal itu untuk menjaga kualitas durian yang ia jual. Yang bagus dijual per kg. Yang kurang bagus jadi tempoyak.

HARDI SUPRAPTO 

0 komentar:

Posting Komentar