Minggu, 03 Oktober 2021

Gus Miftah Jarang Sowan Orang Tua di Jabung, Lampung

BANDARLAMPUNG (2/10/2021) -  Gus Miftah tidak asing lagi di Indonesia, setelah pria bernama asli Miftah Maulana Habiburrahman itu mendirikan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogjakarta, sembilan tahun lalu. 

Meski dalam beberapa kali kesempatan ia menyebut diri dari Ponorogo, Jawa Timur, Gus Mitfah berasal dari Adi Luhur, Jabung, Lampung Timur, yang nama daerahnya  sering terkait dengan penangkapan begal di Lampung dan Jakarta.

Terakhir, Gus Miftah ke Lampung 30 Agustus lalu, saat mendampingi Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto, menyaksikan vaksinasi di Pesantren Bustanul Ulum, Jaya Sakti, Anak Tuha, Lampung Tengah, tempat ia menimba ilmu hingga tingkat Aliyah.

Berhasil mendirikan pesantren, terkenal sebagai ulama marjinal, dan sering berceramah di tempat prostitusi, membuat Gus Mitah, kini, jarang pulang. Adiknya yang paling kecil, Miftakhul Khoeron, atau yang dikenal dengan panggilan Tajib, menyebut abangnya tersebut pulang lebaran terakhir dengan keluarga delapan tahun lalu.

Orangtuanya, Murodi dan Sri Munah, membenarkan hal itu.  Terakhir, untuk bertemu sang anak, sang ibu berangkat ke Pesantren Bustanul Ulum, Lampung Tengah 30 Agustus lalu.  Gus Miftah hanya singgah saat  diundang ceramah oleh seorang pengusaha karaoke di Pasir Sakti, Lampung Timur, lewat sang ibu, sebelum Ramadhan lalu.  

Miftakhul Khoeron, sang adik, menyebut hanya Gus Miftah dari empat mereka bersaudara yang saat ini sukses, tiga orang lainnya hidup pas-pasan.

Meski saudara lainnya miskin, sang adik mengharapkan Gus Miftah tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga. Ia mengaku tidak pernah berhubungan telepon dengan penceramah kondang itu, chattingan pun bisa dihitung dengan jari.

Kehidupan orang tua Gus Miftah, Murodi dan Sri Munah, juga terbilang sederhana di Adi Luhur, Jabung. Namun keduanya tampak bijak dan memahami mengapa penceramah kondang itu tidak lagi  berlebaran ke tempat mereka.

Sang ayah, Murodi mengatakan ia pernah mengajak isterinya Sri Munah mengunjungi Gus Miftah ke Yogjakarta, tetapi wanita itu diam saja.

Gus Miftah susah dihubungi dalam dua pekan terakhir. Telepon dan pesan singkat tidak pernah dibalas, langsung atau lewat isterinya.

MARTIN DAN NAHODA

0 komentar:

Posting Komentar